Dulu aku hanya memiliki satu kebiasaan sebelum tidur yang akan aku lakukan sebelum pergi terlelap dengan berbagai dimensi dengan warna masing-masing yang menggoreskannya indah atau buruk. Awalnya kebiasaan ini hanya muncul ketika aku sedang merasa sangat sedih atau sangat bahagia sekali. Seiringnya waktu, kebiasaan ini membawaku ke dampak kebahagiaan dan melepaskan semua beban yang ku pikul tanpa cerita pada siapapun. Kepada-Nya lah aku hanya bisa bercerita tanpa mengenal batas waktu, kata lelah, atau hanya sekedar memilih tempat enak untuk menceritakan suatu hal. Aku tidak munafik, meski terlihat aneh ini benar-benar nyata. Imajinasiku menuntunku kepada pembalikan sebuah fakta. Aku merasa imajinasikulah yang nyata sedangkan kenyataan yang aku sedang jalani hanyalah berupa mimpi buruk yang akan segera berakhir dengan lelap di malam hari sehingga aku bisa kembali untuk berkhayal cerita yang di rangkai, di perankan, di ceritakan, di ketahui hanya oleh aku semua.
Aku bisa menceritakan hal apapun yang aku suka dalam imajinasiku. Tidak ada raut kebencian atau kebosanan orang lain untuk mendengarkan aku. Ini rahasiaku !!
GILA ! ANEH ! kata yang akan keluar jika aku mengatakan "aku pulang dulu, mau mimpi dulu" kalimat yang akan aku katakan pada kawan sejawatku untuk pamit. Memang benar, aku sungguh selalu ingin cepat pulang ke rumah setelah melakoni rutinitas bumi yang tak ada hentinya hanya dengan keinginan melanjutkan cerita dalam imajinasiku sesegera mungkin, secepat mungkin. Hingga saat ini, aku masih melakukannya. Bahkan bila ada orang lain yang menyebutku "wanita tukang mimpi" akan aku biarkan. Hatinya belum merasakan kebahagiaan luar biasa dari berimajinasi. Apa pedulinya bila aku bersedih atau kecewa ? hanya diam dan mengatakan sabar, MEMBOSANKAN BUNG !
Namun kini semua berubah. Meski aku masih tetap suka berimajinasi sebelum terlelap tapi ketahuilah ini menyakitkan, aku memiliki kebiasaan lain yang menemani imajinasiku. Aku memang terlelap, tapi percayakah kalian semua, lelap yang kulakoni adalah lelap menunggu. Tahukah ? lelap menunggu lebih menyedihkan dari pada menunggu dalam sadar. Setelah aku selesai dengan imajinasiku, aku akan segera menutup mata dan tertidur. Tertidurku dulu adalah karena cerita yang ku rangkai sudah selesai pada malamnya dan akan aku lanjutkan esok hari maka kubilang tertidurku ini adalah tertidur indah yang mengiyuhkan hati dan pikiranku. TAPI, kini TIDAK ! tertidurku berubah menjadi sebuah tertidur dalam menunggu, menunggu ada yang membangunkanku untuk terbangun dan merasa nyata kembali.
Menunggu ?!?!!!!
kata dengan imbuhan di awalnya yang siapapun orangnya ini merupakan kata kebencian dengan keadaan yang tak mengenal nama. Berapapun usia manusia yang sedang melakoni kata "menunggu" akan dibuat kacau olehnya.
WAJAR !!!!!
kata ini adalah bentuk toleransi dari sebuah kekecewaan yang terjadi. Entah sebab apa yang membuat kata "wajar" menjadi penyembuh gundahnya bagian ini. Begitulah "menunggu" yang terobati dengan "wajar".
Aku katakan ini adalah menunggu yang tidak wajar. Aku menunggunya dengan harapan bisa terjaga tanpa keadaan yang bisa menenangkan pikiranku tanpa curiga, tanpa rasa menyerah, tanpa rasa hilang dan masih saja aku belum mewajari apa yang dia lakukan. Gerah, inginnya meluap dan keluar. Dia menjadikan imajinasiku adalah hal kedua yang akan aku lakukan setelah menunggunya. Sadarlah kau telah menggantikan posisi kebahagianku. Tapi posisimu justru lebih buruk saat ini.
Aku lelah...
Lupakan menunggu lagi. Aku akan mencari imajinasiku yang sudah marah karena ada yang menggantikannya. Mengatakan maaf pada imajinasiku karena telah melupakannya. Maafkan aku yang hanya termakan oleh emosi dan nafsu semata. Imajinasiku benar, dia selalu baik dan tak pernah membiarkan aku bersedih lagi oleh ulah manusia-manusia utuh, justru imajinasiku menuntunku bersikap sederhana tanpa sebuah tuntutan dan paksaan untuk menunggu. Dia selalu ada tanpa aku harus mengenal tempat pembaringanku. Maafkan aku imaji :(
-ad-
5 Februari 2016, Bandung
Comments
Post a Comment