Skip to main content

Featured

PERASAAN PERGI DARI RUMAH TANPA PAMIT

Hari ini hari Rabu. Aku ingat harus memberi uang kepada orang tua untuk membantu mereka mengangsur mobil. Motorku lunas dari pegadaian, setelah selama setahun di gadai oleh teman ibu yang tidak bertanggung jawab. Hal itu mengharuskan ibuku mengangsur motor tanpa memakai uang yang cair pada saat itu. Hari ini, digadaikan lagi oleh ibu untuk membayar cicilan mobil yang sudah berjalan selama 9x ini. Cukup berat untukku dan keadaan keluargaku saat ini, yaitu 11jt/bulan selama 4 tahun. Ayahku masih sibuk dengan murai, jalak, love bird dan kenari nya yang setiap hari berharap diberi air yang baru dan tambahan makanan yang enak. Terkadang masih saja waktunya kurang untuk memanjakan hewan sangkar tersebut. Bahkan jika tidak terpenuhi hasrat membeli dampaknya akan serumah yang merasakan. Aku dan suamiku, berdiskusi. Keputusan mana yang harus kami ambil untuk melanjutkan mimpi-mimpi kita jadi kenyataan. pasalnya bukan hanya mimpi aku dan suamiku saja, melainkan untuk membuat ayah dan ibuku...

101 PERJANJIAN RASA DAN RAGA (Part 1)

    




Pagi itu aku mendengarkan suara langkah yang sangat pelan sedang menaiki tangga kost-anku. Semakin dalam aku memasang telingaku, suaranya sangat dijaga dengan perlahan ia terus melangkah. Sudah bisa ku tebak kalau langkah itu milik tetangga kamar kost-anku. Pemilik kamar di depanku ini adalah seorang wanita yang sudah 1 tahun lamanya menempati kamar tersebut, tapi ada satu hal yang sangat mengganggu pikiranku sendiri. Selama itupun aku tidak pernah bertegur sapa, bahkan hanya untuk tersenyum. Kepalanya yang lebih sering tertunduk membuat aku tidak bisa melihat jelas wajahnya dengan rambut yang sedikit tidak teratur.

Perawakannya tidak begitu kurus juga tidak begitu gemuk, cukuplah menurutku. Cara berpakaiannya dominan terkesan cuek, sangat cuek untuk seukuran wanita pada zamannya. Kaos hitam atau putih menjadi pilihannya untuk dikenakan setiap harinya. Aku juga jarang sekali melihat dia keluar kamar. Dari 1 hari hanya sekitar 2 atau 3 kali aku melihatnya keluar kamar, mungkin hanya untuk membeli makanan atau camilan saja pikirku. Tapi beberapa kali aku pernah mendengar percakapan yang ramai di kamarnya. Mungkin aku rasa dia tertutup dengan orang yang tidak dia kenal namun sebaliknya dengan teman-teman yang sudah lama dia kenal.

Kali ini aku membuka pintu kamarku tiba-tiba. Lalu sangat kagetnya dia melihatku dengan jelas. Wajahnya akhirnya terangkat juga bersama badannya. 


"Astagfirullah...!!!" katanya sedikit tersentak dengan perilakuku barusan.

"Eh maaf, bikin kaget ya..?" kataku untuk mencairkan suasana.

Satu hal yang membuatku tertarik untuk meneruskan ceritaku adalah karena akhirnya aku bisa melihat wajahnya untuk pertama kalinya dengan jelas tanpa halangan rambut atau tundukan wajahnya. Ternyata dia adalah wanita yang menarik dari sisi wajahnya. Entah datang dari mana aku akhirnya merasa seperti kegirangan dengan kejadian barusan.

"Eh gak apa apa, kaget aja kirain ada yang jatoh" kata perempuan itu dengan nada dan muka yang datar. Tidak terkesan acuh hanya memang terlihat dingin.

"Hehe maaf ya,"kataku sambil melangkah keluar ke arah kamarnya "nama aku Gisha" kataku melanjutkan maafku tadi sambil mengulurkan tanganku bermaksud berjabat tangan.

"Oh iya, Alea, panggil aja Ale" jawabnya dengan menyambut tanganku.

Kini aku memastikan aku ingin mengenalnya lebih jauh dari hari ini. Ku tinggalkan senyumnku dan meninggalkannya dari kamarnya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya ada seorang perempuan sepertinya. Bukan omongan modus yang aku ceritakan saat ini, Jantugku mendadak berdegup cepat dibuatnya. Wajahnya yang dingin dan polos membuat aku semakin penasaran dengan sosok seperti apa yang menempati raga itu.

Aku berjalan keluar kost-an sambil memikirkan hal apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuka obrolan dengannya. Tiba saat otakku sekarang memikirkan untuk mengajaknya ke acara musik di salah satu universitas swasta di Bandung, karena kebetulan aku juga akan mengisi acara di acara tersebut. Ku urungkan niatku untuk ke warung dan segera aku percepat langkahku untuk segera ke kmar dan menunggu waktu yang tepat untuk membuka obrolan lagi denganya.

-AD-
Bandung, 18 April 2016

Comments

Popular Posts