Skip to main content

Featured

PERASAAN PERGI DARI RUMAH TANPA PAMIT

Hari ini hari Rabu. Aku ingat harus memberi uang kepada orang tua untuk membantu mereka mengangsur mobil. Motorku lunas dari pegadaian, setelah selama setahun di gadai oleh teman ibu yang tidak bertanggung jawab. Hal itu mengharuskan ibuku mengangsur motor tanpa memakai uang yang cair pada saat itu. Hari ini, digadaikan lagi oleh ibu untuk membayar cicilan mobil yang sudah berjalan selama 9x ini. Cukup berat untukku dan keadaan keluargaku saat ini, yaitu 11jt/bulan selama 4 tahun. Ayahku masih sibuk dengan murai, jalak, love bird dan kenari nya yang setiap hari berharap diberi air yang baru dan tambahan makanan yang enak. Terkadang masih saja waktunya kurang untuk memanjakan hewan sangkar tersebut. Bahkan jika tidak terpenuhi hasrat membeli dampaknya akan serumah yang merasakan. Aku dan suamiku, berdiskusi. Keputusan mana yang harus kami ambil untuk melanjutkan mimpi-mimpi kita jadi kenyataan. pasalnya bukan hanya mimpi aku dan suamiku saja, melainkan untuk membuat ayah dan ibuku...

SEPERTI RUU PERMUSIKAN, HIDUPKU JUGA MENGALAMI PENOLAKAN YANG BERLEBIHAN

Anggap saja ini hanya candaan biasa. Ya.. aku pernah mengalami hal semacam ini, seperti RUU permusikan, yang beberapa musisi mengirimkan petisi untuk di tanda tangani secara online oleh para pengikutnya. Aku rasa aku pernah merasa seperti ini. Banyak yang menyerangku karena di pandang buruk oleh kaum tertentu. Mereka menjadi sindikat untuk membenci dan mengeluarkanku dari ruang lingkup itu.

RUU hanyalah draft, bisa saja draft itu di perbaharui, diganti, atau di buang begitu saja tanpa mendapatkan kejelasan yang lebih lanjut. Aku tidak akan mengkritisi RUU yang sedang ramai didebatkan oleh para kaum kaum yang merasa terlibat didalamnya. Aku hanya merasa prihatin karena ketiadaan demokrasi, di dominasi oleh pengancaman, rasa mencari aman untuk melindungi diri sendiri. Aku tidak tau soal musik sedalam kalian, aku juga tidak tau soal musik yang benar seperti kalian, atau aku juga tidak tau soal nyamannya kursi DPR. Aku hanya tau soal di ancam itu sakit, di tuduh itu sakit, sedang jelas indonesia adalah negara demokrasi. Bagaimana sebuah konflik tidak dibicarakan secara musyawarah dan mufakat supaya pihak manapun merasa adil dan seimbang.

Ayolah, para dewasa Indonesia. Masih banyak yang buta soal not angka atau nada nada dalam musik, masih banyak yang bernyanyi fals, masih banyak juga yang tidak paham soal genre terlebih subgenre yang sudah di campur-campur seperti kolak. Duduk lah bersama dalam sebuah rapat dewan supaya menghasilkan keputusan yang sama-sama baik untuk kami semua bangsa Indonesia. Bukan kepentingan publik atau ego individual minoritas.

Comments

Popular Posts